Abu Janda Berani di Publik, Peliharaan Hendro Permadi, Dekat Penguasa, Ajal yang Menghentikan

Abu Janda Berani di Publik, Peliharaan Hendro Permadi, Dekat Penguasa, Ajal yang Menghentikan

Perdebatan panas terjadi antara pegiat media sosial Permadi Arya alias Abu Janda dan pakar hukum tata negara Feri Amsari dalam program Rakyat Bersuara yang disiarkan iNews TV pada Selasa (10/3/2026). Situasi memanas hingga akhirnya Abu Janda diminta keluar dari studio oleh pembawa acara Aiman Witjaksono karena dianggap menggunakan kata-kata yang tidak pantas.

Dalam diskusi tersebut, Abu Janda menyinggung peran Amerika Serikat dalam proses pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda pada tahun 1949. Menurutnya, Belanda akhirnya meninggalkan Indonesia setelah mendapat tekanan dari Amerika Serikat yang mengancam akan menghentikan bantuan jika Belanda tetap mempertahankan kolonialismenya. Ia juga menyebut bahwa Amerika turut mendorong Belanda untuk mengikuti Konferensi Meja Bundar (KMB) serta berperan dalam proses resolusi di Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Namun pernyataan tersebut dibantah oleh Ikrar Nusa Bhakti, mantan duta besar Indonesia untuk Tunisia. Ia menjelaskan bahwa dukungan Amerika Serikat saat itu bukan semata-mata karena solidaritas terhadap perjuangan Indonesia, melainkan dipengaruhi kepentingan geopolitik. Amerika, menurutnya, khawatir Indonesia akan jatuh ke dalam pengaruh komunisme sehingga memilih menekan Belanda.

Ketegangan semakin meningkat ketika Feri Amsari mengangkat isu hubungan Indonesia dan Palestina. Ia menilai Indonesia memiliki “utang sejarah” kepada Palestina karena pada masa perjuangan kemerdekaan terdapat dukungan diplomatik dan bantuan finansial dari seorang saudagar Palestina bernama Muhammad Ali Taher.

Pernyataan tersebut langsung ditolak oleh Abu Janda yang menyebut kisah kontribusi Palestina sebagai informasi yang tidak benar. Perdebatan pun semakin sengit dengan nada yang semakin keras di antara para narasumber.

Melihat situasi yang semakin tidak kondusif serta adanya ucapan yang dinilai melanggar etika, Aiman Witjaksono sebagai moderator akhirnya mengambil keputusan tegas dengan meminta Abu Janda meninggalkan forum diskusi.

Profil Abu Janda

Permadi Arya, yang juga dikenal sebagai Heddy Setya Permadi atau Abu Janda, lahir di Cianjur, Jawa Barat, pada 14 Desember 1973. Ia dikenal sebagai aktivis media sosial yang kerap menyuarakan isu-isu sosial seperti intoleransi, radikalisme, dan kebebasan beragama di Indonesia.

Dalam berbagai kesempatan, Abu Janda sering memberikan komentar mengenai peristiwa yang berkaitan dengan pembubaran kegiatan ibadah, penolakan pembangunan rumah ibadah, maupun tindakan perusakan tempat ibadah milik kelompok minoritas.

Dari segi pendidikan, ia pernah menempuh studi Business and Finance di University of Wolverhampton, Inggris pada 1999 serta memperoleh Diploma Ilmu Komputer dari Informatic IT School di Singapura pada 1997.

Sebelum dikenal sebagai aktivis media sosial, Abu Janda bekerja di berbagai sektor industri sejak 1999 hingga 2015, mulai dari perusahaan sekuritas, perbankan swasta, hingga perusahaan pertambangan batu bara. Pada tahun 2019, ia bergabung sebagai pegiat media sosial dalam tim pendukung Joko Widodo pada Pilpres 2019, yang kemudian membuat namanya semakin dikenal luas di dunia digital, terutama karena berbagai pernyataannya yang kerap memicu kontroversi.

Profil Feri Amsari

Feri Amsari lahir di Padang, Sumatera Barat pada 2 Oktober 1980. Ia merupakan pakar hukum tata negara, akademisi, sekaligus dosen di Fakultas Hukum Universitas Andalas. Ia juga pernah menjabat sebagai Direktur Pusat Studi Konstitusi (PUSaKO) Fakultas Hukum Universitas Andalas pada periode 2017 hingga 2023.

Selain aktif mengajar dan meneliti, Feri juga kerap menulis mengenai isu hukum dan politik di berbagai media, baik lokal maupun nasional seperti Kompas, Padang Ekspres, Singgalang, dan Haluan.

Namanya semakin dikenal publik setelah keterlibatannya dalam film dokumenter Dirty Vote yang membahas dugaan kecurangan dalam Pilpres 2024 bersama dua pakar hukum lainnya, yakni Bivitri Susanti dan Zainal Arifin Mochtar.

Feri menempuh pendidikan dasar hingga menengah di Muara Bungo, Jambi setelah sempat bersekolah di Padang. Ia kemudian melanjutkan studi di Fakultas Hukum Universitas Andalas dan meraih gelar Sarjana Hukum pada 2004.

Selanjutnya ia memperoleh gelar Magister Hukum dari universitas yang sama pada 2008 dengan predikat cumlaude. Pendidikan internasionalnya ditempuh di William & Mary Law School, Virginia, Amerika Serikat, tempat ia meraih gelar Master of Laws pada 2014 dengan fokus pada perbandingan hukum Amerika dan Asia.