Batu Koral Putih Berpotensi Dongkrak Ekonomi Warga Kec.Lembah Sabil

Batu Koral Putih Berpotensi Dongkrak Ekonomi Warga Kec.Lembah Sabil

ACEH BARAT DAYA,- Butiran batu koral putih yang telah dikemas dalam karung ukuran 15 kilogram disusun rapi hingga sebahu orang dewasa. Tumpukan karung itu kemudian ditaruh berjejer di sekeliling teras sebuah bangunan berukuran 4x4 meter. Beberapa tumpukan butiran batu koral putih dan batu hitam (river stone) dengan ukuran bervariasi tersebut dibiarkan begitu saja di depan bangunan rumah Samsinari, di Gampong Kayee Aceh, Kecamatan Lembah Sabil, Aceh Barat Daya (Abdya).

Diharap tumpukan itu dapat menjadi semacam display pemikat para konsumen. Pemandangan seperti ini kerap ditemukan di sepanjang jalan nasional Gampong Kayee Aceh, tepatnya di areal kepala jembatan Krueng (Sungai) Baru perbatasan antara Abdya dengan Kabupaten Aceh Selatan. Salah seorang pengumpul batu putih, Samsinari mengaku sudah tiga tahun lebih bergeliat di bidang usaha pengumpul batu putih untuk kemudian dijual kepada konsumen guna mendongkrak ekonomi rumah tangganya.

“Alhamdulillah lancar, tapi tergantung pada kondisi juga, kadang laku kadang tidak, intinya hasil jualan bisa menambah kebutuhan ekonomi rumah tangga,” ucapnya dengan penuh syukur sambil menggendong putra bungsunya. Baca Juga:133 UMKM di Agara Terima Bantuan Dana Usaha Ekonomi Produktif Wanita dua anak itu mengaku batu putih tersebut dipasok oleh kaum ibu-ibu rumah tangga, yang mengumpulkannya dari bantaran Krueng Baru.

“Kalau batu putih seukuran telur ayam harganya lebih murah, biasanya 3 karung ukuran 15 kg Rp50 ribu rupiah. Sedangkan batu putih ukuran kecil atau batu jagung satu karungnya Rp30 ribu,” rinci Samsinari. Samsinar mengaku, batu putih itu tidak saja diminati konsumen dari Abdya,  tetapi juga Aceh Selatan termasuk digemari oleh konsumen dari Banda Aceh. “Batu putih ukuran kecil dan besar sama-sama diminati, tergantung kebutuhan pembelinya, terkadang ada juga yang suka corak hitam,” paparnya.

Menurut Samsinar, batu putih yang dijualnya ke pembeli bisa dimanfaatkan untuk material penutup permukaan kuburan. Batu-batau itu juga sering digunakan untuk hiasan taman pekarangan rumah. “Bisa jadi pembeli tertarik dengan warnanya, ada yang menggunakan sebagai hiasan taman rumah, kuburan, serta keperluan yang lainnya,” ulasnya. Samsinar mengaku agak kewalahan untuk menampung batu putih dari warga yang berdomisili di daerah aliran sungai (DAS) Krueng Baru karena keterbatasan modal usaha. “Semoga saja ada perhatian dari pemerintah sehingga potensi batu putih bisa menjadi salah satu sumber ekonomi bagi warga kita di sini,” demikian tutupnya.